Archive for the ‘Cerita’ Category

Pilih Mencintai atau Dicintai?

Posted: Agustus 28, 2010 in Cerita
Tag:


Suatu hari, seseorang yang sedang putus cinta menangis di taman….

Datang seseorang bertanya padanya, “mengapa kamu menangis..?”

Dijawabnya, “aku sangat sedih, kekasihku meninggalkan aku..!”

Orang itu tertawa sambil berkata, “Kamu bodoh sekali..”

Dijawabnya, “Kamu tak punya perasaan atau bagaimana??? Aku sedang putus cinta dan ini sudah cukup menyedihkan. Tak apalah kalau kamu tak membujukku, tapi mengapa kamu tega menertawai ku juga…?!”

“Bodoh…! kamu tak perlu sedih, karna yang seharusnya sedih adalah dia!” kata orang itu.

“Kenapa dia yang bersedih, kan dia yang memutuskan aku???” jawabnya

“Karna kamu hanya kehilangan orang yang TAK MENCINTAIMU, tetapi DIA KEHILANGAN ORANG YANG SANGAT MENCINTAINYA”  jawab orang itu .

sumber : bluefame.com

Iklan

24 Jam sebelum Kematian

Posted: Agustus 20, 2010 in Cerita
Tag:

Si cowok memberikan tantangan kepada ceweknya untuk hidup tanpa dirinya,

tidak ada komunikasi sama sekali, antara mereka selama sehari.

Dia berkata pada ceweknya, kalau dia bisa melewati itu dia akan akan mencintainya untuk selamanya.

Ceweknya pun setuju.

cewek tersebut tidak sms / telepon cowoknya seharian.

tanpa mengetahui bahwa cowoknya hanya memilik 24 jam untuk hidup, karena dia terkena kanker.

Keesokan harinya dia pergi kerumah cowoknya

air matanya pun tiba-tiba menetes pada saat dia melihat cowoknya sudah terbaring

dengan surat ditangannya yang tertulis :

“kau berhasil sayang, bisakah kamu lakukan itu setiap hari ???”

Sebesar Apa Cintamu?

Posted: Agustus 13, 2010 in Cerita
Tag:, ,

Terlampir kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV). Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.

Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.Silahkan baca dan dihayati.

Sebuah perenungan, Buat para suami baca ya…….. istri & calon istri juga boleh…

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa,tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata,”Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. . bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”. Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2, “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami suda tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2nya. “Anak2ku ………… Jikalau pernikahan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah…… tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. Sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit..”

Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno….dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita..”Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam pernikahannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”

sumber tulisan : kaskus. us

Waktu terus berlalu, tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan

masih teringat jelas senyum terakhir yang kau beri untukku…

Ini sebuah kisah tentang kehidupan seorang temanku, sebut saja namanya Elang . Elang ini bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan swasta di kota Surabaya. Dia menyukai seorang gadis, sebut saja Melati. Melati juga seorang karyawan biasa sama seperti Elang, tapi di perusahaan yang berbeda.

Seperti yang sudah kita ketahui bersama, kapan dan dimana datangnya cinta tiada orang yang tahu. Begitu juga dengan Elang dan Melati, suatu takdir mempertemukan mereka. Hingga akhirnya Elang jatuh cinta pada Melati. Tidak halnya dengan Melati. Dia belum bisa menerima cinta Elang.

“Maaf, aku belum bisa menerima cintamu. Dalam hatiku belum bisa melupakan bayang-bayang mantanku.” (kayak sinetron aja nih…)

It’s okay. Tapi Ngga’ apa-apa kan kalau aku jadi sahabatmu?”

Melati mengangguk.

Akan tetapi, Elang tidak putus asa dan terus berusaha mendapatkan cinta Melati. Perjuangan Elang tidak sia-sia, meski Melati belum bisa menerima cintanya, Melati tidak berhubungan dengan pria lain meski banyak pria yang berusaha mendekatinya (istilahnya Elang adalah TTM-nya).

Namun takdir berkata lain. Suatu ketika, perusahaan tempat kerja Melati melakukan pengurangan jumlah karyawan. Melati termasuk salah satu korban pengurangan tersebut. Kontrak kerja Melati habis dan tidak diperpanjang lagi. Melati kembali ke desanya tanpa memberi tahu Elang.

Elang akhirnya menyusul ke desa tempat tinggal Melati yang berada berpuluh-puluh kilometer dari kota Surabaya.

Disana Elang dikejutkan kabar bahwa Melati akan berangkat ke Jakarta untuk mengadu nasib di ibu kota. Disana ia akan tinggal dengan tetangganya yang telah lama merantau ke Jakarta. Elang berusaha mencegah niat Melati. Akan tetapi Melati bersikeras dengan keinginannya.

“Tinggallah disini. Meskipun kau belum bisa menerima cintaku, tapi aku akan menunggumu..” sergah Elang.

“Maafkan aku, Elang. Tapi aku harus pergi… Kalau terus disini aku tetap tidak bisa melupakan bayang-bayang mantanku…” (mellow nih ceritanya)

“Kamu tidak harus ke Jakarta, disini juga kita masih bisa mencari uang. Asalkan kita berusaha keras!”

“Tidak, aku harus pergi…! Lupakan saja aku…!” (keras kepala ni orang)

“Aku tidak akan bisa mencintai orang lain lagi selain kamu…”

Dengan lunglai akhirnya Elang kembali ke rumahnya. Ia tidak berhasil mencegah kepergian Melati. Padahal waktu itu ia bermaksud melamar Melati. Dalam hati ia berharap suatu saat bisa menyusul Melati ke Jakarta.

Hidup terus berjalan. Melati pergi ke Jakarta dan Elang sama sekali tak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Elang berulang kali berusaha mencari kabar Melati tapi tak juga berhasil. Elang tetap tinggal di Surabaya. Di sela-sela kesibukannya ia membuat blog dan meskipun ia tetap berada di kotanya, tapi tulisan-tulisannya telah sampai kemana-mana. Bukan hanya Jakarta tapi seluruh dunia membaca tulisannya. Tapi tetap saja, ia tidak berhasil menemukan kabar tentang Melati (padahal ia sudah search di internet).

Sampai saat ini ia belum bisa mencintai orang seperti ia mencintai Melati. Meski banyak gadis yang hilir mudik dalam kehidupannya. Ketika kutanya mengapa ia tidak bisa mencintai gadis lain, ia hanya menjawab, “Aku sudah coba tetapi tidak bisa.”

Well, kayak lagunya Element aja :

Bila aku harus mencintai dan berbagi hati, itu hanya denganmu. Namun bila ku harus tanpamu, akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta…

(fahmee)

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
“Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, “Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang?
Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung.
Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.”

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat,tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku.
Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama,saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya memberengut, “Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik…hasil yang begitu baik…” Ibu mengusap airmatanya yang mengalir dan menghela nafas, “Apa gunanya?
Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
dan berkata, “Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi,telah
cukup membaca banyak buku.” Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya. “Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan
saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!” Dan begitu
kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, “Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini.” Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas.

Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: “Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang.”
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.
Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman
sekamarku masuk dan memberitahukan, “Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.
Aku menanyakannya, “Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, “Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?”
Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, “Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu…”

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu.
Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,
“Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu.”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
“Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!” Tetapi katanya, sambil tersenyum, “Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu..”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
“Apakah itu sakit?” Aku menanyakannya.
“Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan…”
Ditengah kalimat itu ia berhenti.
Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.
Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun,
mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, “Kak, jagalah mertuamu saja.
Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini.”
Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit. Suamiku dan
aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, “Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini.
Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?”

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. “Pikirkan kakak ipar–ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?”

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: “Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!” “Mengapa membicarakan masa lalu?”
Adikku menggenggamtanganku.
Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, “Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” Tanpa berpikir ia menjawab, “Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. “Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya.
Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya.”

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
“Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku.”
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

sumber : bluefame.com

Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut”.

Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang?” Wanita itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar”.

“Oh kalau begitu,kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali”, kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, “Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini”.

Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. “Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama”, kata pria itu hampIr bersamaan.

“Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran.

Salah seseorang pria itu berkata, “Nama dia Kekayaan,” katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, “sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya.Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-sayang. Sekarang, coba Tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu.”

Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar.

Suaminya pun merasa heran. “Ohho…menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.”

Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, “sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita.”

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. “Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang.”

Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. “Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita.”

Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. “Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini.”

Si Kasih-sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho..ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. “Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga? ”

Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. “Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih-sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.”

“Seperti pandangan mata yang terhalang, untuk mendapatkan pemecahan persoalan, Anda pun perlu mencoba menggeser sudut pandang pemikiran Anda.”

Alkisah, ada seorang petani di sebuah desa mempunyai hutang yang sangat besar kepada seorang lintah-darat. Kebetulan, si Lintah Darat naksir berat sama anak perempuan si Petani. Maka timbulah pikiran liciknya, “Hei petani, utangmu akan aku anggap lunas kalau aku boleh menikahi anak perempuanmu!” katanya. Tentu saja si Petani dan anak perempuannya itu menolaknya.

Si Lintah Darat yang licik itu tak menyerah, “Biarlah kita buang undi. Saya akan memasukkan dua kerikil ke dalam kotak ini, satu hitam dan satu putih. Anak perempuanmu aku persilahkan untuk mengambilnya salah satu. Kalau yang terambil hitam, maka hutangmu lunas dan maka aku mendapatkan anak perempuanmu. Kalau yang terambil putih, kamu tetap berutang padaku dan aku tidak akan menikahi puterimu. Dan … jika anak perempuanmu tidak mau mengambilnya, kamu akan masuk penjara!” katanya sambil menyeringai licik.

Anak perempuan petani itu tahu betul bahwa ini pastilah siasat licik Lintah Darat itu. Ia yakin, kerikil yang akan dimasukkan dalam kotak itu pastilah hitam semuanya. Dan benar, tanpa sengaja anak perempuan petani itu melihat si Lintah Darat memasukkan dua kerikil hitam ke dalam kotak! Anak
perempuan petani itu memutar otak, bagaimana ia menyiasati akal bulus lintah darat itu. Dilema yang sangat besar baginya, karena kalau ia menolak mengambil, ayahnya akan masuk penjara. Kalau ia mengungkapkan kecurangan si Lintah Darat, ia sangat takut dan mungkin malah mencelakakan semuanya. Bukankah para pengikut dan pengawal Lintah Darat itu bagian dari skenario kelicikannya? Tetapi kalau ia mengambil, pastilah kerikil hitam yang terambil!

Tapi, puji Tuhan, di saat-saat kritis itu, anak perempuan petani itu mendapatkan akal. Dengan disaksikan penduduk sekitar yang berdatangan, ia dengan mantap mengambil salah satu kerikil dalam kotak itu, menggenggamnya, dan kemudian tanpa membuka genggamannya, ia mempersilahkan si Lintah Darat untuk melihat kerikil yang tersisa dalam kotak. “Apakah warna kerikil yang tersisa Tuanku?” tanya anak perempuan petani itu.

Tentu saja sang Lintah Darat terperanjat dengan kepintaran anak perempuan petani itu, “Hitam …” katanya lirih.

“Karena Tuan telah memasukkan satu kerikil hitam dan satu kerikil putih, berarti yang ada dalam genggamanku ini adalah kerkil putih!” kata anak perempuan petani itu sambil tersenyum.

Akhir cerita, hutang si Petani lunas, dan anak perempuannya tetap bersama-sama dengan dia. Dan perlu Anda ketahui, sampai Lintah Darat dan semua penduduk pulang ke rumah masing-masing, anak perempuan petani itu tetap tidak membuka genggamannya. Ia tidak ingin mempermalukan Lintah Darat itu dengan menunjukkan kelicikannya dalam soal kerikil hitam dan kerikil putih itu … Ia telah memberikan pelajaran berharga bagi si Lintah Darat, bagaimana niat jahatnya dibalas dengan tindakan bijak.

Adakalanya kita menghadapi dilema dan saat-saat sulit dalam menentukan pilihan seperti yang dialami anak perempuan petani itu. Apabila pendekatan logika tidak bisa dilakukan, gunakan pendekatan yang berbeda, atau coba lihat dan pikirkan dari sudut pandang yang berbeda. Pasti akan ada jalan.

sumber : timetotalks.blogspot.com