Posts Tagged ‘kisah hidup’

Sumber : Kompas, 29 Oktober 2010
Peresensi : Sophie Mou
Penerbit : Galangpress

Penjara bagi kebanyakan orang adalah tempat yang menakutkan. Benarkah penjara adalah tempat yang menakutkan bagi manusia ? Sebenarnya orang orang yang terpenjara itu tidak ada perbedaan dengan manusia bebas di luar penjara. Mereka tidak menakutkan, mereka hanya orang orang yang berbuat salah, yang menebus kesalahannya menjalani hukuman di balik jeruji.
Dinar dibui dengan hukuman 1 tahun 2 bulan, sedangkan kekasihnya hanya dipidana dengan hukuman 4 bulan. Perbuatan yang dilakukan bersama, tetapi mengapa hukuman diterima berbeda jauh? hanya rumput yang bergoyang yang menjawab.

Mereka di dalam sana adalah manusia yang juga mempunyai keinginan, dan cita cita jika mereka bebas dan kembali ke masyrakat, untuk berkarya dan memulai kehidupan baru. Siapakah diantara kita yang tidak pernah melakukan kesalahan, hanya tergantung besar kecilnya kesalahan yang kita perbuat.

Galangpress mengadakan worshop menulis di LP Wirogunan, Jogjakarta. Berangkat dari semboyan Urip sejatine Agawe Urup, hidup seharusnya bisa memberi makna hidup dan kehidupan bagi orang lain.

Walau badan para narapidana terpenjara tetapi semangat, imajinasi dan kreativitas tidak akan pernah dapat terkekang, itulah salah satu yang diyakini oleh Pihak galang. “Ini adalah salah satu bentuk kerjasama kemanusiaan galangpress. Kami ingin sekali membuat warga binaan di lapas bisa menulis dan membagikan pengalaman inspiratifnya ke masyarakat luas,” jelas Julius Felicianus, direktur Galangpress ketika membuka workshop.

Workshop ini diikuti oleh 30 penghuni lapas yang telah menjadi warga binaan LP Wirogunan. Galang mengirimkan 7 editor terbaiknya, memberikan pembinaan dan pengarahan dalam menulis. Setelah mengikuti workshop, para warga binaan diberikan waktu 1 bulan untuk menulis, mengikuti lomba menulis, dan kisah mereka akan diseleksi dan diterbitkan menjadi buku oleh pihak Galangpress.

Dalam rangka ulang tahun Lapas, 14 mei dipilihlah 4 kisah pemenang. Bersama dengan kisah pilihan lainnya, tulisan para pemenang ini dibukukan. Seperti kata salah satu penulis yang divonis selama 7 tahun karena kasus pembunuhan. “Tubuh kami boleh terkurung di sini, namun inspirasi, kreasi dan imajinasi kami tidak akan pernah terkurung. Kami bagaikan katak yang menembus tempurung.”

Dari salah satu dari kisah yang menyentuh, tersebutlah kisah dari Dinar, pemenang juara 2. Narapidana wanita yang menjalani hukuman dikarenakan kasus penguguran janin. Dinar dibui dengan hukuman 1 tahun 2 bulan, sedangkan kekasihnya hanya dipidana dengan hukuman 4 bulan. Perbuatan yang dilakukan bersama, tetapi mengapa hukuman diterima berbeda jauh? hanya rumput yang bergoyang yang menjawab.

Pada dasarnya Dinar adalah gadis yang ceria dan cantik, penjara tidak membuatnya bersedih, meratapi nasibnya. Di penjara ini, dirinya menyesuaikan diri, menjalani hari harinya. Dirinya telah menyesal melakukan perbuatan bodoh, tetapi nasi sudah menjadi bubur, sekarang saat menebus kesalahan diri.

Penjara ternyata tidak menakutkan seperti yang dibayangkan oleh Dinar, didalam penjara ini dirinya mengenal jalinan cinta dengan sesama narapidana pria. Cinta yang dimulai ketika memulai mapenaling ( masa pengenalan lingkungan ), ketika berakhir masa mapenaling bersemilah cinta dinar dan kekasihnya.

Cinta itu ternyata di mana-mana sama saja, jatuh cinta berjuta rasanya, walau berpacaran di dalam penjara merupakan larangan bagi narapidana. Jarak cinta Dinar terlalu jauh, sebentar lagi kurang dari satu setengah bulan lagi, dirinya akan bebas, sedangkan kekasihnya masih harus menjalanin masa hukuman yang lama, seberapa lamakah? 12 tahun…oh cinta…apalagi cinta penjara. Inilah Kutipan cerita hati Dinar  “Cinta hanya sebagian dari hidup ini. Jangan menyerahkan seluruh hidupmu untuk cinta. Kelak kau akan kecewa. Pengalaman masa laluku dengan Timbul sudah menjadi peringatan bagiku. Namun entah mengapa, aku ingin sekali membuka kembali hatiku untuk menerima cinta seorang lelaki. Tapi aku takut akan disakiti untuk ke sekian kali. Ingat Dinar! Jangan mudah percaya dengan orang lain. Ah, masa bodoh.”

Aku tahu masa penantianku akan sangat berat, tapi apa salahnya mencoba. Bukan lagi saatnya bagiku untuk gonta-ganti pacar seperti dulu. Aku ingin Ada yang akan mendampingiku hingga nanti. Kembali aku masuki alam lamunanku. Aku berpikir bahwa sebentar lagi aku sudah bisa menghirup udara kebebasan. Dan di lapas inilah aku belajar menerima kenyataan hidup yang sesungguhnya. Tempat di mana aku telah memulai lagi hidupku yang baru. Aku menjadi seorang hamba yang tak lagi lupa akan kewajiban beribadah. Di tempat ini aku menimba banyak kenangan dan pelajaran. Di sini aku betul-betul sadar kalau perbuatanku yang dulu-dulu adalah salah dan dosa.

Di sini, setiap aku menengadahkan kedua tanganku untuk berdoa, aku bersujud. Aku selalu menangis dan selalu meminta ampun dari Mu ya Tuhan. Aku bertobat pada Mu ya Tuhan. Terima kasih Tuhan Engkau masih mempercayakan hidup untuk hamba berbuat kebaikan lagi. Engkau memperingatkan hamba untuk menyembah dan beribadah kepada Mu. Sekali lagi terima kasih Tuhan.

Apapun hasil akhir cerita dari cinta Dinar, penjaralah yang telah memberikan cinta yang tulus kepada dirinya. Berbahagialah dirinya, yang telah menceritakan pada pembaca di luar lapas, di dalam penjara bukan hanya ada pertobatan, tetapi ada cinta dan kehidupan yang baru.

Cerita Dinar hanyalah salah satu dari 19 kisah catatan kehidupan napi binaan lapas wirogunan. Cerita yang terjadi pada diri anak manusia, yang mencoba bangkit dari keterpurukan, mengatasi penyesalan di masa lalu, menapak jalan kehidupan baru, menembus tempurung mereka.

Berbahagialah mereka yang masuk penjara karena diberi kesempatan membuka batinnya, menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi dan keseimbangan baru. Berbahagialah mereka yang tak mengalami penjara dan menemukan imaginasi dari yang tak dialami. Keduanya menemukan keseimbangan saling memahami – Arswendo Atmowiloto. (Sophie Mou)

Iklan

24 Jam sebelum Kematian

Posted: Agustus 20, 2010 in Cerita
Tag:

Si cowok memberikan tantangan kepada ceweknya untuk hidup tanpa dirinya,

tidak ada komunikasi sama sekali, antara mereka selama sehari.

Dia berkata pada ceweknya, kalau dia bisa melewati itu dia akan akan mencintainya untuk selamanya.

Ceweknya pun setuju.

cewek tersebut tidak sms / telepon cowoknya seharian.

tanpa mengetahui bahwa cowoknya hanya memilik 24 jam untuk hidup, karena dia terkena kanker.

Keesokan harinya dia pergi kerumah cowoknya

air matanya pun tiba-tiba menetes pada saat dia melihat cowoknya sudah terbaring

dengan surat ditangannya yang tertulis :

“kau berhasil sayang, bisakah kamu lakukan itu setiap hari ???”

Sebesar Apa Cintamu?

Posted: Agustus 13, 2010 in Cerita
Tag:, ,

Terlampir kisah nyata yang bagus sekali untuk contoh kita semua yang saya dapat dari millis sebelah (kisah ini pernah ditayangkan di MetroTV). Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo Suyatno, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia.

Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali.Silahkan baca dan dihayati.

Sebuah perenungan, Buat para suami baca ya…….. istri & calon istri juga boleh…

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak.

Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga, seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja, dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas waktu maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang, bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur.

Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa,tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah, sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata,”Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu, tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……. . bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu”. Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2, “sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini kami suda tidak tega melihat bapak. Kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”.

Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2nya. “Anak2ku ………… Jikalau pernikahan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah…… tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. Sejenak kerongkongannya tersekat,… kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain? Bagaimana dengan ibumu yg masih sakit..”

Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno. Merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno….dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno, kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. Disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio, kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita..”Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam pernikahannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata,dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2..Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,”

sumber tulisan : kaskus. us

KISAH GADIS BUTA

Posted: Juni 15, 2010 in Inspiratif
Tag:



Ada seorang gadis buta yang membenci dirinya sendiri karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya. Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi kekasihnya hanya jika dia bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepadanya sehingga dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasihnya. Kekasihnya bertanya, “Sekarang kamu bisa melihat dunia. Apakah kamu mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya ternyata buta. Dia pun menolak untuk menikah dengannya.

Kekasihnya pergi dengan air mata mengalir, dan kemudian menulis sepucuk surat singkat kepada gadis itu, “Sayangku, tolong jaga baik-baik mata saya.”

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

AKU TERLAHIR 500gr dan BUTA

Posted: Juni 14, 2010 in Buku
Tag:


Karena aku cacat, aku harus berusaha lebih keras daripada orang lain

Membaca sebuah kesaksian bisa menjadi sangat bermanfaat. Kita tidak hanya belajar mengenal pribadi yang bersaksi, tapi juga mengenal bagaimana seseorang berjuang menghadapi kehidupan. Sementara dari aspek spiritual, kita bisa melihat campur tangan Tuhan dalam kehidupan pribadi seseorang. Selain itu, membaca kesaksian juga bisa menginspirasi kita untuk menggumuli hidup dengan lebih serius dan lebih mengucap syukur. Demikian halnya ketika membaca buku Aku Terlahir 500 gr dan Buta ini.

Miyuki Inoue, penulis buku ini, merupakan seorang anak yang dilahirkan dengan harapan hidup yang sangat tipis, sebagai bayi yang lahir prematur. Disampaikan dengan bahasa yang khas siswa sekolahan yang begitu polos, Miyuki menuangkan pengalaman hidupnya, bagaimana ibunya berjuang membesarkannya dengan cinta kasih.

Miyuki Inoue lahir pada tanggal 21 Agustus 1984 di kota Kurume, Provinsi Fukuoka. Kecelakaan yang dialami ayahnya dalam perjalanan dinasnya ke Hiroshima pada musim panas 1984, membuat dirinya tidak pernah bertemu dan merasakan kehangatan seorang ayah. Padahal, ayah dan ibunya baru akan menikah, meskipun hubungan mereka ditentang oleh keluarga ayahnya.

Semula, Miyuki tidak terlahir dengan kondisi fisik yang langsung buta. Sebagai bayi prematur, ia harus berada dalam inkubator. Namun, terlalu lama berada dalam inkubator justru yang banyak dialiri oksigen justru menyebabkan Retinopathy of Prematurity (ROP), penyakit yang gampang membutakan bayi prematur.

Selain itu, Dokter Fukuda, dokter yang merawatnya, menyebutkan sejumlah penyakit yang diderita oleh Miyuki yang masih bayi. Mulai dari kekurangan kalsium dalam darah, tingginya kadar bilirubin dalam darah, anemia, rachitism, pneumonia, pembesaran cerebum, kelaindan pada bronchitis, dan ROP (halaman 17). Tentu saja hal ini membuat sang ibu begitu terkejut dan sangat khawatir.

Meskipun sangat terkejut, namun ia tetap tegar.

“Miyuki, kau adalah anak yang paling malang di dunia. Tidak hanya karena kamu tidak bisa bertemu dengan ayahmu sendiri, tetapi kamu bahkan tidak bisa melihat muka ibumu sendiri. Tetapu anakkuy, kita berdua akan terus hidup sampai kamu dewasa. Sampai kamu menemukan kebahagiaanmu, Ibu akan membesarkanmu sampai kamu bisa bilang, ‘Ibu, aku bersyukur karena dapat hidup.’” (Halaman 26–27)

Lebih jauh lagi, kita akan diajak untuk menelusuri bagaimana sang ibu, Michiyo Inoue (juga menulis buku mengenai pergumulannya membesarkan Miyuki, Hiduplah Anakku Ibu Mendampingimu, juga diterbitkan oleh Elex Media Komputindo) begitu keras dalam membesarkan Miyuki. Dalam suratnya pada bagian epilog, sang ibu menulis,

Ibu akan hidup sambil mengatasi segala masalah dan penderitaan. Ibu tentu akan hidup lebih tenang dengan cara seperti itu, membesarkanmu dengan keras sejak kecil. Kadang-kadang memukulmu. Kalau tangan tidak cukup, kakiku juga akan menendang. Terang saja kamu menganggap diriku sebagai Ibu yang seperti setan.

Ibu tahu kamu menganggap Ibu seperti itu, namun terus melanjuitkan cara mendidik yang keras. Ibu juga ingin supaya kamu menjadi orang dewasa yang kuat. (Halaman 174)

Miyuki memang dididik dengan model biarkan dia mencoba dan menyentuh apa pun (halaman 41). Hal ini membuat ia tidak takut untuk bermain sendiri, meskipun hanya diawasi dari jauh.

Dalam mengajar berbicara juga, ibunya tidak meladeni dengan bahasa bayi yang dibuat-buat. Kalau Miyuki mengucapkan sepatah-sepatah, sang ibu akan menaruh tangan Miyuki ke mulutnya dan mengucapkan kata tersebut dengan jelas.

Buku ini menggambarkan sebuah ikatan keluarga kecil yang sangat kuat. Meski berkali-kali diisi dengan pertengkaran ibu-anak, tangis dan bahagi tak kurang mewarnai kehidupan Miyuki dan ibunya. Ini bukan berarti bahwa Anda perlu banyak berkelahi dalam keluarga untuk memperkuat ikatan, ada banyak cara untuk memperkuat ikatan keluarga.

Namun, apa yang terjadi pada Miyuki dan ibunya memang unik. Sang ibu menuturkan betapa mereka benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi. Tidak hanya karena keluarga pihak ayahnya yang tidak mengakui keberadaan mereka berdua, keluarga dari pihak ibunya pun boleh dibilang tidak ada lagi. Masa lalu kelam sang ibu dikisahkannya tak lama setelah mereka bertengkar karena Miyuki berkata hendak bunuh diri karena tidak tahan lagi dengan keadaannya dan kerasnya cara mendidik sang ibu. Hal itu membuka mata Miyuki untuk memahami betapa sedihnya kehidupan masa lalu sang ibu. Dan fakta itu mendorong kehidupan mereka untuk lebih kuat lagi.

Ketika membaca buku ini, ada beberapa hal yang bisa saya pelajari. Selain kembali diingatkan bahwa keutuhan, dalam arti hidup tanpa cacat, adalah anugerah dari Tuhan, saya juga melihat bahwa kecacatan pun ternyata juga merupakan suatu anugerah juga. Ketika merasa diri bisa berguna di balik keterbatasan, kita akan merasa sangat berharga, sangat bahagia. Hal seperti inilah yang dirasakan Miyuki tatkala berhasil meraih juara dalam lomba mengarang se-SLB, mulai dari tingkat daerah, provinsi, sampai nasional.

Selain itu, saya juga sangat kagum dengan sang ibu, Michiyo Inoue. Meski caranya mendidik sangat keras, toh ia berhasil membesarkan Miyuki menjadi seorang anak yang kuat, yang tegar. Semua itu tidak lepas dari keyakinannya,

Ibu yakin, Tuhan memberiku anak buta bukan untuk ditangisi, tapi disyukuri. (Halaman 39)

Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh semua orang yang mengalami kecacatan agar termotivasi bahwa diri mereka sangat berharga, bahwa diri mereka bisa melakukan sesuatu bagi sesama. Tidak hanya itu, orang tua yang memiliki anak yang cacat pun perlu membaca buku ini guna melihat ketegaran seorang ibu yang harus berjuang sendirian merawat dan membesarkan anaknya. Dengan demikian, semangat juang yang tak kenal lelah itu bisa ditiru.

Anda tentu ingin tahu seperti apa karya tulis Miyuki yang berhasil memenangkan perlombaan mengarang tersebut, bukan? Tidak usah penasaran karena tulisannya itu turut dilampirkan dalam buku ini.

Meski tidak terlalu tebal, toh saya masih butuh waktu sekitar empat sampai lima hari untuk membaca buku ini. Dan ini menjadi buku ketiga yang saya baca dalam tahun 2008 ini, sekaligus yang pertama di bulan Februari. Sekarang akan baca buku apa lagi, ya?

Data buku

Judul: Aku Terlahir 500 gr dan Buta
Judul asli: Ikitemasu
Penulis: Miyuki Inoue
Penerjemah: Tiwuk Ikhtiari
Tebal: xiv + 183 halaman
Ukuran: 13 cm x 20 cm
Penerbit: Elex Media Komputindo, Jakarta 2006
Situs penerbit: http://www.elexmedia.co.id/

sumber : sudahbacaapa.wordpress.com