Posts Tagged ‘Novel’

a Message of Love

Posted: Juli 24, 2010 in Buku
Tag:,

Judul: A Message of Love

Peresensi: Rini Nurul Badariah, rinurbad.multiply.com
Penulis: Tria Barmawi
Penerbit: Lingkar Pena Publishing
Halaman: 368
Seperti They Want Me to be Bright, novel bernuansa islami cukup kental ini berbicara tentang pendidikan. Tentu saja di AMoL, cakupannya lebih luas. Penulis menyebut metode beberapa sekolah, dan dengan representasi dialog karakter-karakternya, mengungkapkan kekaguman serta inspirasi yang terdorong oleh sejumlah bacaan menyoal topik itu, di antaranya Totto-chan.
Sub plot yang paling merebut hati saya adalah perihal kedua kakek Zahra, Opa Sakri dan Eyang Anang Sumargana. Hubungan kakek dan cucu yang mesra, dibauri aspek-aspek pengajaran yang indah seperti menulis dengan tinta, semangat berbagi ilmu meskipun telah pensiun, dan menerjemahkan buku bahasa Belanda, menyentuh batin sampai ke dasar. Tanpa sungkan penulis mengemukakan bahwa kedua sosok menawan ini terlahir dari profil kakek-kakeknya sendiri, membaca uraian demi uraian mengenai mereka menjerat saya dalam perenungan melodius. Pasalnya, saya merasa disuguhi cerita tentang seseorang yang sangat saya kenal dan memiliki kepedulian serupa pada perkembangan masyarakat sekitar, utamanya di pedesaan, seperti Eyang Anang dan Opa Sakri.
Pautan hati kakek dan cucu digedorkan dalam bentuk mimpi, yang hadir selaku pembuka karya fiksi bersampul hijau menyejukkan penglihatan ini. Ada kalanya mimpi bukan bunga tidur, ada pula mimpi yang bukan rekayasa setan lantaran kita lupa membaca doa, tetapi mimpi yang menggema ke nurani sehingga seorang Zahra yang merasa hidupnya monoton dalam perambatan karir belaka terdorong untuk mengikuti petunjuk dari masa lalu.
Mengapa tagline di muka menyebut-nyebut cinta dan persahabatan? Itu pulalah yang dikuak dalam konflik lain A Message of Love. Tiga perempuan yang menjadi karib, diterpa badai kepercayaan dan keraguan meski telah seperti saudara selama bertahun-tahun, karena asmara. Terbetik pesan bahwa seorang akhwat juga manusia, bisa terperangkap cinta sekaligus hasrat menggebu untuk menunaikan keinginannya segera menikah. Kekecewaan yang berkepanjangan digambarkan sangat baik oleh penulis, tanpa jatuh dalam napas sentimentil yang over dosis. Penghujung romansa yang membuat gemas ini dapat ditebak pada titik tertentu.
Elemen personal yang dijumput penulis untuk mempercantik karyanya ini bukan hanya profil kedua kakek, para pendidik yang menerbitkan rasa kagum melimpah, namun juga dialek Malaysia Aziyah, teman kuliah Zahra, yang sangat ‘nyata’ mengingat penulis sempat bermukim di negeri jiran cukup lama.
Faktor lain yang tidak kalah memukau ialah aroma Sunda dalam sebagian latar cerita. Saya tersenyum-senyum kala Zahra, Mutia, dan Dania nyaris pingsan diberondong suguhan makanan serta selalu harus makan setiap kali mampir bertandang [mengingatkan pada masa KKN di Sumedang yang meledakkan lambung]. Terdapat sedikit kemelesetan dalam dialog bahasa Sunda dengan penduduk, namun tidak menjadi soal sebab dewasa ini, warga di daerah pun lebih fasih berbahasa Indonesia dibanding menggunakan bahasa leluhur. Bila selama ini para pelancong hanya menjelajah sekitar Bandung dan tempat berbelanja alias FO, membaca A Message of Love akan membetot rasa ingin tahu akan adanya desa elok bernama Cibulan Wetan di perbatasan Garut-Tasikmalaya.
Penulis menyisipkan adegan menarik ihwal garis batas yang harus dipatuhi seseorang dalam pola asuh ibu dan anak. Zahra merasa iba pada anak kecil yang rewel karena tidak diberi permen, lalu mengulurkan satu kepadanya. Meski tak lupa berterima kasih, sang ibu menjelaskan bahwa perbuatannya bukan tanpa alasan. Kadang anak-anak menggunakan rengekan sebagai senjata, dan ibu tersebut tidak ingin buah hatinya terbiasa memperoleh segala yang diinginkan begitu saja. Terlebih, ia sudah terlalu banyak makan permen. [hal. 220-223].
Yang terang, membaca novel ini membuat saya kian cinta menetap di desa. Sebagaimana petikan berikut,
“Tidak semua tempat di dunia mampu menawarkan kebahagiaan seperti di sini, Zahra,” kata Eyang suatu hari, duduk di dalam saung bambunya di tengah hamparan kuning padi dan kicauan burung. [hal. 26]

sumber : resensibuku.com

Alita @ First

Posted: Juli 14, 2010 in Buku
Tag:

Sumber: Okezone, 10 Mei 2010
Judul Buku: ALITA @ FIRST
Peresensi: Ersina Rakhma
Pengarang: Dewie Sekar
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Februari 2010
Tebal: 328 halaman

Baru pertama kalinya saya membaca novel karya Dewie Sekar, dan baru pertama kalinya saya meneteskan airmata lebih dari sekali saat membaca novel metropop. Novel ini begitu menyentuh saya di beberapa bagian, selain fakta bahwa saya mempunyai seorang kakak laki-laki yang berusia jauh di atas saya dan pernah mempunyai cinta yang takkan pernah termiliki. Saya yakin bahwa ada pembaca yang pernah mempunyai kisah serupa. Cerita Alita, Yusa, Abel dan Erwin dalam meraih cita-cita dan cinta sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Alita, seorang remaja berusia 13 tahun yang baru menginjak bangku SMP, terpesona pada seorang pria teman kakaknya, Yusa. Pembawaan Erwin, pria itu, sangatlah menyenangkan. Sehingga mampu membuat Alita yang pendiam menjadi ceria dan bisa banyak bercerita. Namun satu sifat Erwin yang tidak baik, yaitu begitu banyaknya wanita yang tergoda pesonanya menyebabkan terdapat kesan bahwa Erwin playboy yang gemar mempermainkan wanita.

Yusa, mama, bahkan eyang putri memperingatkan Alit agar tidak jatuh pada perangkap Erwin. Sayangnya perasaan memang tidak dapat ditolak kehadirannya. Cinta itu tumbuh perlahan yang berkelanjutan hingga mengendap di dasar hati Alit yang terdalam dan tidak bisa dijangkau siapapun lagi. Namun Alita tetap menemukan akal sehatnya dan menyimpan rasa itu diam-diam.

Saat Alit memutuskan untuk kuliah di Jogja sambil menemani eyang putrinya, Yusa telah bekerja di Surabaya dan Erwin kembali ke Jakarta. Intensitas pertemuan secara fisik tentu telah berkurang, digantikan oleh teknologi masa kini, e-mail.

Kuasa Allah-lah yang mengatur pertemuan dan perpisahan seseorang. Ava, kekasih Yusa, mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal dunia. Kejadian itu menyebabkan Alit bertemu kembali dengan Erwin. Pria itu menghibur kesedihan Alit, kembali membangun rasa cinta Alit. Hingga saat Erwin mengatakan bahwa kebawelan Alit mirip dengan Tira, kekasihnya, hati Alit terkoyak. Dia pun memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Erwin, entah itu puisi yang rutin mereka kirimkan tiap bulan, ataupun SMS dan telepon. Alit mengganti alamat email dan nomor handphone-nya.

Hari berganti bulan, Alit yang selalu menyimpan Erwin di hatinya, dibujuk Abel sahabatnya agar mau berkenalan lebih jauh dengan Baim, seorang mahasiswa yang kos di depan rumah eyang putri. Pada hari Sabtu yang telah mereka tentukan untuk berkencan, tak disangka Erwin datang ke Jogja. Reaksi Alit yang meneteskan airmata saat menemui Erwin, menjawab semua pertanyaan Erwin mengapa Alit tidak membalas email dan teleponnya.

Perasaan Alit tertumpah sudah saat itu. Dia tak lagi malu mengakui bahwa dia menyukai Erwin, dan Erwin pun membuka semua kisah sepak terjangnya selama ini bersama para wanita. Dan Tira adalah wanita yang diharapkannya menjadi yang terakhir dalam hidupnya, bahkan mereka berniat untuk menikah. Alit tidak berharap apapun lagi pada Erwin, dia hanya ingin mencoba membuka hati untuk Baim.

Namun perasaan Alit pada Erwin terlalu kuat. Saat pak pos datang mengantar paket untuk Alit dari Erwin yang berisi kain brokat serta undangan pernikahan Erwin dan Tira, raut wajah Alit cukup menjelaskan bagaimana hancurnya perasaan gadis itu. Baim pun cukup pintar untuk membaca ekspresi Alit. Jika saya boleh menggambarkan perasaan Alit itu dengan kata-kata saya sendiri, akan saya katakan pasti hatinya serasa ditusuk pedang yang tajam dan perlahan pedang itu berputar sehingga pedihnya makin terasa dan takkan pernah hilang.

Begitulah sebagian kecil dari kisah Alita, dan tidak berhenti sampai disitu karena masih ada berbagai peristiwa yang selalu mengaduk-aduk perasaan Alita pada Erwin. Dan satu hal yang selalu ditekankan Alita pada hatinya dan juga pada Erwin, yaitu sekuat-kuatnya perasaan cintanya pada Erwin, dia selalu menggunakan akal sehat dan tidak buta untuk begitu saja menerima Erwin sebagai pasangan hidupnya.
Lalu bagaimana kelanjutan cinta Alita ini? Akankah cinta Alita dan Erwin berlabuh di pelaminan ataukah ada rencana Allah untuk mereka? Yang pasti, Alita telah mengetahui hikmah di balik kepergian Ava, kekasih kakaknya. Yaitu Allah mempersiapkan hati mereka untuk menerima kehilangan yang lebih besar lagi.
Novel ini begitu menyentuh hati saya, baik karena beberapa kesamaan saya dengan Alita, tetapi juga sikap Alita yang begitu teguh memegang logika diatas perasaannya. Hal yang menurut saya sudah jarang dilakukan oleh insan yang lagi dimabuk asmara. Selain itu juga pengendalian diri Alit terhadap hatinya sehingga kontak fisik paling intim yang Alit dan Erwin lakukan adalah berpelukan.

Selain dari sisi cerita, penggunaan kalimat yang tidak bertele-tele juga menjadi daya tarik dari novel karena menjadikan karya Dewie Sekar ini  mudah dipahami dan tidak membosankan. Satu hal yang bisa saya pastikan, siapkan tissue sebelum Anda duduk  manis dan membaca kisah Alita dari awal  hingga akhir. Saya yakin Anda membutuhkannya.

Ersina Rakhma
Penikmat Buku, Tinggal di Jakarta

SANG RAJA JIN

Posted: Juli 6, 2010 in Buku
Tag:,

Konon, ada empat jalan menuju “kesejatian”: sains, filsafat, sastra, dan agama. Para pencari kesejatian sejak berabad-abad silam memilih jalan setapak mereka masing-masing. Ada yang berhasil menemukan “kebenaran”, tapi banyak pula yang tak kunjung memperoleh apa yang mereka cari. Alih-alih menemukan kebenaran, jalan yang mereka ambil justru membuat mereka tersesat.


Dalam Sang Raja Jin (Kayla, 2008), novel karya Irving Karchmar, kita bisa merasakan jejak keempat jalan setapak itu, terutama dua jalan terakhir. Dalam pandangan saya, Sang Raja Jin adalah sebuah karya sastra yang berupaya menyingkap hakikat kesejatian melalui pendekatan tasawuf.

Kisah bergulir melalui penuturan sang narator, Ishaq, seorang murid tarekat yang semula adalah mahasiswa filsafat yang serius dan “rasional”. Sosok Syekh Haadi, sang mursyid tarekat, merupakan tokoh dominan yang kerap mewejang murid-muridnya tentang berbagai rahasia semesta dan kearifan tersembunyi. Ada pula Profesor Solomon, seorang ilmuwan Yahudi, dan putrinya yang penuh cinta, Rebecca; seorang tentara Israel yang “menemukan takdir” dengan cara yang ganjil, Kapten Aaron; sepasang saudara, Ali dan Rami, yang rela “meniadakan diri” untuk sesuatu yang lebih penting dari diri pribadi dengan terjun ke sumur api; Amenukal, seorang kepala suku pengembara yang ternyata sufi bermaqam tinggi; serta tokoh faqir misterius yang “sakti” jelmaan sesosok jin bernama Ornias. Sementara itu, yang dimaksud sebagai Raja Jin dalam novel ini adalah Baalzebul, penghulu kaum jin yang tengah berseteru dengan kelompok jin kafir yang dipimpin Ifrit.

Irving menggunakan novelnya ini sebagai medium penggambaran pencarian kesejatian melalui tokoh-tokohnya yang beraneka latar, tapi dipertemukan “takdir” yang menggiring mereka ke satu titik yang sama: “jalan cinta”—tentunya setelah melalui berbagai pergulatan.

Sebagai sebuah novel, Sang Raja Jin mengambil bentuk yang sederhana, tapi mengandung isi yang dalam. Ia indah, sekaligus bermakna. Dulce et utile. Novel yang diterjemahkan dan disunting dengan bagus ini mengandung kisah yang menarik sehingga membuatnya enak dibaca, sekaligus mengajak pembacanya “merenung”. Dan saya kira, itulah inti novel ini: perenungan tentang hakikat kehidupan dan penciptaan.

Ada banyak hal yang menarik dibahas lebih lanjut dari novel ini, tapi yang paling menarik buat saya adalah yang berkaitan dengan kematian dan cinta. Berkaitan dengan dua hal tersebut, izinkan saya mengutip beberapa kalimat yang menggelitik dalam novel ini:

Kematian adalah salah satu anugerah terlembut dari Tuhan. Kematian memisahkan orang dari kegembiraan dan kesedihan sementara, yang hanya setetes belaka bagi jiwa. …di balik kematian ini terbentang Samudra Cahaya… (hal. 33)

…kematian adalah sesuatu yang tak terelakkan, tetapi kalian takut padanya. Jiwa kalian takut ketika memikirkan kematian. Tetapi seorang Sufi tak meminta apa pun, dan tak takut pada apa pun, sebab ia telah memasrahkan hidupnya dan menyerahkan segala yang dimilikinya kepada Tuhan. (hal. 34)

Kami berjuang untuk menaklukkan ego dalam pikiran dan perbuatan kami, dan berusaha bersyukur atas anugerah Allah dengan menghambakan diri dalam banyak pelayanan. (hal. 113)

Ketika Allah menciptakan umat manusia, semuanya mengatakan mencintai-Nya. Maka Dia kemudian menciptakan kesenangan-kesenangan duniawi, dan sembilan per sepuluh dari mereka segera meninggalkan-Nya, sehingga yang tersisa hanya sepersepuluhnya. Kemudian Allah menciptakan kemegahan dan kenikmatan Surga, dan sembilan per sepuluh dari sepersepuluh yang tersisa itu meninggalkan-Nya. Lalu Allah menimpakan bencana dan kesedihan kepada sepersepuluh yang tersisa itu. Dan sembilan per sepuluh dari sepersepuluh yang tersisa itu juga melarikan diri dari-Nya. … Manusia-manusia yang menjauh dari-Nya itu terombang-ambing antara kesenangan, harapan, dan putus asa. Tapi, mereka yang tetap bertahan, yakni sepersepuluh dari sepersepuluh dari sepersepuluh yang tersisa, adalah manusia-manusia pilihan. Mereka tidak menginginkan dunia, tidak mengejar surga, dan tidak melarikan diri dari derita. Hanya Allah semata yang mereka inginkan, dan walaupun mereka menerima penderitaan dan cobaan yang bisa membuat gunung-gunung gemetar ketakutan, mereka tidak meninggalkan cinta dan kepasrahan kepada-Nya. Mereka adalah hamba Allah yang sejati, pencinta Allah yang sesungguhnya. (hal. 114-115).

Mengikuti jalan cinta harus menjadi hamba sejati, harus melayani Tuhan dan segenap makhluk-Nya, agar mereka bisa menemukan jalan yang benar. (hal. 115)

… Jika datang kepadamu orang yang sakit karena berpisah dari-Ku, sembuhkanlah dia. Atau bila karena melarikan diri dari-Ku, carilah dia. Atau jika karena takut kepada-Ku, yakinkanlah dia. Lalu beri bantuan kepadanya, atau kalau kau bertemu dengan orang yang mencari-Ku, bantulah dia mendekati-Ku. Atau jika dia amat membutuhkan rahmat-Ku, bantulah dia. Atau jika dia berharap kasih sayang-Ku, ingatkanlah dia. Dan jika dia tersesat, carilah dia. Sebab engkau telah ditakdirkan untuk membantu-Ku, dan engkau telah kuangkat untuk melayani-Ku. (hal. 115)

Kebanyakan manusia tidak melihat bahwa dalam kesadaran akan cinta tersembunyi kesadaran akan Tuhan… (hal. 154)

Ketahuilah… cinta adalah dasar dan prinsip dari jalan menuju Tuhan. Segala keadaan dan maqam adalah tahapan-tahapan cinta, yang tak akan bisa dihancurkan selama Jalan Cinta itu ada. (hal. 282)

… ketika Tuhan menyuruh mereka melihat alam semesta yang diciptakan-Nya, mereka tak melihat hal-hal yang lebih berharga ketimbang diri mereka sendiri, dan karenanya mereka dipenuhi kebanggan dan kesombongan… Tubuh sujud dalam shalat, dan jiwa meraih cinta, ruh sampai ke kedekatan dengan Tuhan, sedangkan hati mendapat kedamaian dalam persatuan dengan Allah… Cinta tak bisa dijelaskan. Penjelasan tentang cinta bukanlah cinta, karena cinta melampaui kata-kata… cinta adalah anugerah ilahi. Ia tidak dapat direbut, juga tak bisa dilawan. (hal. 283)

Dalam novel ini dikisahkan tokoh-tokoh yang gagal mengatasi dosa-dosa maut dalam diri—seven deadly sins: lust (syahwat), anger (amarah), envy (dengki), gluttony (rakus), greed (tamak), sloth (malas), pride (sombong)—menemui akhir yang tragis, antara lain sosok Afarnou (anak Amenukal yang menemui kematian sia-sia di gurun pasir karena ketamakan, kemalasan, dan kesombongannya) serta Ifrit yang menutup diri dari kebenaran dan rahmat Allah akibat kemarahan, kedengkian dan kesombongannya sehingga harus mengalami “hidup” yang pedih.

Sementara itu, tokoh-tokoh yang dengan penuh keikhlasan bersedia menghadapi kematian dalam menjalankan “tugas kehidupan” dengan berkelana tanpa tahu takdir apa yang bakal menjemput, justru selamat dan menemukan “jalan Tuhan”.

Menarik juga menyimak bahwa tokoh-tokoh yang berakhir baik tak selalu baik dan sempurna. Tidak hitam putih. Profesor Solomon adalah orang yang ragu yang baru tercerahkan pada usia tua. Ornias adalah jin maling dan pembunuh yang bertobat dan kemudian berhasil meningkatkan semesta dirinya. Sungguh, yang luar biasa bukanlah yang tak pernah jatuh, melainkan yang bisa bangkit dari kejatuhan. Mereka berhasil keluar dari “penjara diri” dengan mengatasi segala tarikan nafsu diri pribadi, menyatu dengan kehendak Tuhan melalui pengutamaan pelayanan terhadap sesama makhluk daripada kenyamanan pribadi, dan akhirnya meraih cinta, abadi dalam cinta.

Seperti kata Rumi, “Jika kau ingin mengetahui dirimu yang sejati, keluarlah dari dirimu/Tinggalkan selokan dan mengalirlah menuju Sungai.” Atau seperti yang ditulis penyair sufi lainnya, “Ketahuilah bahwa ketika kau belajar kehilangan dirimu, kau akan mencapai Yang Terkasih…” Selaras pula dengan ajaran Lao Tze dalam Tao Te Ching, “Yang mengalahkan diri sendiri disebut kuat… Yang mati tapi tak binasa disebut panjang umurnya.”

Dan, seperti yang sedikit banyak tergambar dalam novel ini, jalan menuju kesejatian itu jelas tak gampang dilalui. Sungguh tak mudah menaklukkan diri sendiri. Namun demikian, semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung.

Resensi oleh Anton Kurnia, orang awam yang suka membaca dan menulis.