Archive for the ‘Buku’ Category

Judul : Tuck Everlasting
Peresensi : Truly Rudiono
Pengarang: Natalie Babbitt
Penerjemah : Mutia Dharma
Penyunting : Ida Wajdi
Penerbit : Atria

Di sebuah pavlium kecil tak jauh dari sebuah rumah megah bertingkat, tampak seorang wanita  paruh baya sedang duduk dengan nyaman di sebuah sofa. Tangannya terlihat  memegang sebuah buku. Wajahnya memancarkan ketenangan. Itu dikarenakan  ia berada di tempat yang paling disukainya, perpustakaan pribadinya. Ia berada di antara buku-buku yang dikoleksinya sejak dulu.

Setiap buku mengandung cerita. Ia sangat menyukai saat bersantai dalam hening sambil sesekali membuka-buka buku koleksinya. Ada yang memang dibaca ulang, namun ada juga yang hanya dibuka sekedar karena dorongan sentimentil seorang perempuan paruh baya belaka.

Namun keheningan mendadak pecah oleh suara  berlari beberapa orang. Perempuan itu hanya terseyum sambil melirik jam yang ada di dinding. Rupanya ia  sudah tahu siapa yang harus .bertanggung jawab karena merusak keheningan di perpustakaannya

Beberapa orang ABG mendekat dengan setengah berlari.

“Maaf Grandnie,  hari ini kami terlambat. Sepulang sekolah kami  melayat orang tua seorang teman sekelas” kata seorang pemuda dengan napas terengah-engah akibat berlari. Ia rupanya menjadi juru bicara  diantara lain lain

Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum simpul sambil menatap wajah-wajah yang ada dihadapannya. Mereka adalah cucu tersayangnya dan para sahabat. Setiap hari jumat sepulang sekolah,  mereka pasti mampir ke perpustaakaan pribadi nya untuk meminjam buku dan berdiskusi seputar dunia  tulis menulis, dunia yang belakangan menarik perhatian mereka.

”It’s ok…suatu saat nanti juga tiba giliranku. Hidup dan mati memang harus dihadapi” jawabnya dengan santai.

Jawabannya membuat  mereka sesaat saling menatap dengan heran.

”Grandnie, ada buku yang berkisah tentang kehidupan dan kematian?” tanya seorang gadis muda.

Rupanya mereka  masih terbawa suasana sehabis melayat tadi.

Perlahan perempuan paruh baya  yang dipanggil Grandnie itu mendekati sebuah rak. Tangannya menyusuri  susunan buku yang ada dan berhenti di sebuah buku tipis berjudul Tuck Everlasting. Diambil dan disodorkannya buku itu ke anak perempuan yang tadi bertanya.

”Hah…? Ini khan buku anak-anak Grandnie! Masak aku disuruh baca buku anak-anak” Anak perempuan itu menunjukkan keberatannya. Maklum diusia 13 tahun  mereka tidak mau dianggap anak-anak, walau remaja juga belum.

”Kata siapa?  Buku ini berkisah tentang pilihan hidup. Apakah mau hidup abadi atau hidup sesuai kodrat” jawab perempuan itu dengan tersenyum. Anak gadis itu menerima dengan ragu. Matanya memancarkan rasa tak percaya sambil tangannya membolak-balik halaman buku secara acak dengan lesu.

Melihatnya perempuan paruh baya itu tertawa tanpa suara. Diambilnya buku yang tadi diserahkan sambil berkata,

”Ya sudah, duduk sana. Untuk sekali ini biar Grandnie bercerita ala pendongeng”  kata perempuan itu sambil  duduk di sofa nyamannya. Seketika suasana menjadi riuh. Anak-anak remaja itu berebutan mencari posisi yang nyaman untuk mendengarkan cerita.

Untuk sesaat mereka melupakan tekatnya untuk dianggap remaja. Biar bagaimana juga, dalam diri setiap individu terdapat unsur anak-anak yang tak pernah hilang.

Perlahan, mulailah perempuan itu bercerita………………………..

Alkisah,  disuatu masa hiduplah seorang gadis kecil bernama  Winnie Foster.  Ia merupakan anak tunggal dari  sebuah keluarga yang memegang ketat peraturan. Semuanya harus teratur dan rapi.  Hidup seakan monoton baginya. Ia bahkan tnyaris ak boleh pergi melewati pagar rumahnya. sendirian  Kadang Winnie merasa bosan dan ingin memberontak.

Suatu hari,  guna menghilangkan kejenuhannya Winnie  nekat pergi keluar pagar sendirian. Di dekat rumah kelurga Foster, terdapat sebuah hutan kecil. Tanpa sengaja, kakinya melangkah ke dalam hutan hingga berhenti di sebuah mata air kecil.

Disana ia bertemu dengan seorang anak laki-laki  bernama Jesse yang kelihatannya sebaya dengannya.

Sebaya…………?

Sebenarnya tidak juga.

Winnie juga  bertemu dengan

Angus

Mae

Miles

Seluruh anggota keluarga Tuck yang kelihatan ramah dan menghadapi hidup dengan tenang.

Tanpa sengaja, Winnie bertemu dengan sebuah keluarga yang  hidup abadi. Entah kutukan atau anugrah. Mereka bukanlah golongan orang yang berusaha mencari obat umur panjang apalagi obat untuk hidup abadi. Semuanya  diperoleh tampa sengaja dari kolam kecil di hutan milik keluarga Winnie.

Keluarga Tuck sepertinya sudah bisa menberima kondisi mereka dengan lapang dada. ”Hidup harus dijalani, tidak perduli pendek atau panjang, kau harus menerima apa yang datang…. Kami  tidak layak mendapatkan anugrah-kalau ini memang anugrah. Dan sebaliknya, aku juga tidak melihat  harus dikutuk, kalau ini memang kutukan… dan mengeluh tidak akan mengubah apa-apa” kata  Mae Tuck kepada Winnie

Perkenalan yang singkat mampu mengubah pandangan hidup Winnie. Winnie yang merupakan anak tunggal menemukan sesuatu yang menarik hatinya. ”….Aku muak diperhatikan setiap saat. Aku ingin menajdi diriku sendiri sesekali”  Di rumah sederhana keluarga Tuck, ia menemukan apa yang diimpikannya, menjadi dirinya sendiri.

Hidup dan kelahiran bagaikan dua mata uang. Saat kita lahir, kita sudah harus mempersiapkan diri guna menghadapi kematian, tanpa tahu entah kapan datangnya. Hal itu juga diajarkan kepada Winnie oleh Angus Tuck.

”Aku tidak ingin mati”,kata Winnie

”Tidak,” kata Tuck dengan tenang.

”Tidak sekarang. Waktumu bukan sekarang. Tetapi kematian adalah bagian dari roda itu, peris  di samping kelahiran. Kau tidak bisa memilih bagian yang tidak kausukai dan menyisakan yang lain…..Roda itu akan terus berputar… tetapi orang tidak akan berubah kecuali menjadi batu-batu di sisi jalan. Karena mereka tidak akan tahu sampai sesudahnya, dan pada saat itu semuanya sudah terlambat.”

Buku ini mengisahkan bagaimana Winnie diusia yang belia harus mengambil keputusan yang paling berpengaruh dalam hidupnya. Menjadi abadi seperti keinginan Jesse yang sangat disukainya atau tetap menjalani roda kehidupan seperti yang ditakdirkan. Pelajaran  bagaimana kehiduapn harus dijalani dan bagaimana kita harus bersikap terhadap kematian bisa di peroleh dalam buku ini. Jangan meremehkan sebuah buku, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita dapati dari buku itu.

Perlahan perempuan paruh baya itu menutup buku yang tadi dibacanya dan menyerahkan kembali ke anak perempuan yang tadi bertanya. Untuk kali ini anak perempuan  itu menerimanya dengan takjub dan membalik-balik halaman dengan mata-mata yang berbinar kagum.

“Kalian tahu, penulis buku ini adalah  Natalie Zane Moore,   dikenal dengan nama Natalie Babbitt  lahir di Dayton, Ohio, pada  28 Juli 1932 . Selain menulis buku anak-anak, ia juga  seorang ilustrator buku . Buku ini juga sudah difilmkan. Jika kalian mau menonton, filmnya ada  disebelah sana” kata perempaun paruh baya itu sambil menunjuk sebuah rak.

Sang cucu tersayang yang juga bertindak sebagai juru bicara,  bergegas  menuju rak yang dimaksud dan mencari-cari dengan semangat. Saat film sudah didapat diacung-acungkannya keatas bagai memamerkan sebuah piala.

“Ayo kita menonton di rumah induk ditemani cemilan” ajaknya yang segera disambut gembira oleh yang lain.

“Bye Grandnie, love you” katanya sambil memeluk perempuan paruh baya itu sekilas. Yang lain juga mengikuti sambil bergegas menuju rumah induk

Perempuan paruh baya itu hanya tersenyum sambil memandangi mereka berlalu.

Keheningan mendadak datang kembali. Perempuan paruh baya itu kembali mendapatkan ketenangannya

Ia kembali duduk di sofa nyamannya ditemani sebuah buku.

Namun mendadak ia terduduk!  Telinganya seakan  menangkap sebuah tawa

Tidak………………………………….!

sumber

Iklan

Sumber : Kompas, 29 Oktober 2010
Peresensi : Sophie Mou
Penerbit : Galangpress

Penjara bagi kebanyakan orang adalah tempat yang menakutkan. Benarkah penjara adalah tempat yang menakutkan bagi manusia ? Sebenarnya orang orang yang terpenjara itu tidak ada perbedaan dengan manusia bebas di luar penjara. Mereka tidak menakutkan, mereka hanya orang orang yang berbuat salah, yang menebus kesalahannya menjalani hukuman di balik jeruji.
Dinar dibui dengan hukuman 1 tahun 2 bulan, sedangkan kekasihnya hanya dipidana dengan hukuman 4 bulan. Perbuatan yang dilakukan bersama, tetapi mengapa hukuman diterima berbeda jauh? hanya rumput yang bergoyang yang menjawab.

Mereka di dalam sana adalah manusia yang juga mempunyai keinginan, dan cita cita jika mereka bebas dan kembali ke masyrakat, untuk berkarya dan memulai kehidupan baru. Siapakah diantara kita yang tidak pernah melakukan kesalahan, hanya tergantung besar kecilnya kesalahan yang kita perbuat.

Galangpress mengadakan worshop menulis di LP Wirogunan, Jogjakarta. Berangkat dari semboyan Urip sejatine Agawe Urup, hidup seharusnya bisa memberi makna hidup dan kehidupan bagi orang lain.

Walau badan para narapidana terpenjara tetapi semangat, imajinasi dan kreativitas tidak akan pernah dapat terkekang, itulah salah satu yang diyakini oleh Pihak galang. “Ini adalah salah satu bentuk kerjasama kemanusiaan galangpress. Kami ingin sekali membuat warga binaan di lapas bisa menulis dan membagikan pengalaman inspiratifnya ke masyarakat luas,” jelas Julius Felicianus, direktur Galangpress ketika membuka workshop.

Workshop ini diikuti oleh 30 penghuni lapas yang telah menjadi warga binaan LP Wirogunan. Galang mengirimkan 7 editor terbaiknya, memberikan pembinaan dan pengarahan dalam menulis. Setelah mengikuti workshop, para warga binaan diberikan waktu 1 bulan untuk menulis, mengikuti lomba menulis, dan kisah mereka akan diseleksi dan diterbitkan menjadi buku oleh pihak Galangpress.

Dalam rangka ulang tahun Lapas, 14 mei dipilihlah 4 kisah pemenang. Bersama dengan kisah pilihan lainnya, tulisan para pemenang ini dibukukan. Seperti kata salah satu penulis yang divonis selama 7 tahun karena kasus pembunuhan. “Tubuh kami boleh terkurung di sini, namun inspirasi, kreasi dan imajinasi kami tidak akan pernah terkurung. Kami bagaikan katak yang menembus tempurung.”

Dari salah satu dari kisah yang menyentuh, tersebutlah kisah dari Dinar, pemenang juara 2. Narapidana wanita yang menjalani hukuman dikarenakan kasus penguguran janin. Dinar dibui dengan hukuman 1 tahun 2 bulan, sedangkan kekasihnya hanya dipidana dengan hukuman 4 bulan. Perbuatan yang dilakukan bersama, tetapi mengapa hukuman diterima berbeda jauh? hanya rumput yang bergoyang yang menjawab.

Pada dasarnya Dinar adalah gadis yang ceria dan cantik, penjara tidak membuatnya bersedih, meratapi nasibnya. Di penjara ini, dirinya menyesuaikan diri, menjalani hari harinya. Dirinya telah menyesal melakukan perbuatan bodoh, tetapi nasi sudah menjadi bubur, sekarang saat menebus kesalahan diri.

Penjara ternyata tidak menakutkan seperti yang dibayangkan oleh Dinar, didalam penjara ini dirinya mengenal jalinan cinta dengan sesama narapidana pria. Cinta yang dimulai ketika memulai mapenaling ( masa pengenalan lingkungan ), ketika berakhir masa mapenaling bersemilah cinta dinar dan kekasihnya.

Cinta itu ternyata di mana-mana sama saja, jatuh cinta berjuta rasanya, walau berpacaran di dalam penjara merupakan larangan bagi narapidana. Jarak cinta Dinar terlalu jauh, sebentar lagi kurang dari satu setengah bulan lagi, dirinya akan bebas, sedangkan kekasihnya masih harus menjalanin masa hukuman yang lama, seberapa lamakah? 12 tahun…oh cinta…apalagi cinta penjara. Inilah Kutipan cerita hati Dinar  “Cinta hanya sebagian dari hidup ini. Jangan menyerahkan seluruh hidupmu untuk cinta. Kelak kau akan kecewa. Pengalaman masa laluku dengan Timbul sudah menjadi peringatan bagiku. Namun entah mengapa, aku ingin sekali membuka kembali hatiku untuk menerima cinta seorang lelaki. Tapi aku takut akan disakiti untuk ke sekian kali. Ingat Dinar! Jangan mudah percaya dengan orang lain. Ah, masa bodoh.”

Aku tahu masa penantianku akan sangat berat, tapi apa salahnya mencoba. Bukan lagi saatnya bagiku untuk gonta-ganti pacar seperti dulu. Aku ingin Ada yang akan mendampingiku hingga nanti. Kembali aku masuki alam lamunanku. Aku berpikir bahwa sebentar lagi aku sudah bisa menghirup udara kebebasan. Dan di lapas inilah aku belajar menerima kenyataan hidup yang sesungguhnya. Tempat di mana aku telah memulai lagi hidupku yang baru. Aku menjadi seorang hamba yang tak lagi lupa akan kewajiban beribadah. Di tempat ini aku menimba banyak kenangan dan pelajaran. Di sini aku betul-betul sadar kalau perbuatanku yang dulu-dulu adalah salah dan dosa.

Di sini, setiap aku menengadahkan kedua tanganku untuk berdoa, aku bersujud. Aku selalu menangis dan selalu meminta ampun dari Mu ya Tuhan. Aku bertobat pada Mu ya Tuhan. Terima kasih Tuhan Engkau masih mempercayakan hidup untuk hamba berbuat kebaikan lagi. Engkau memperingatkan hamba untuk menyembah dan beribadah kepada Mu. Sekali lagi terima kasih Tuhan.

Apapun hasil akhir cerita dari cinta Dinar, penjaralah yang telah memberikan cinta yang tulus kepada dirinya. Berbahagialah dirinya, yang telah menceritakan pada pembaca di luar lapas, di dalam penjara bukan hanya ada pertobatan, tetapi ada cinta dan kehidupan yang baru.

Cerita Dinar hanyalah salah satu dari 19 kisah catatan kehidupan napi binaan lapas wirogunan. Cerita yang terjadi pada diri anak manusia, yang mencoba bangkit dari keterpurukan, mengatasi penyesalan di masa lalu, menapak jalan kehidupan baru, menembus tempurung mereka.

Berbahagialah mereka yang masuk penjara karena diberi kesempatan membuka batinnya, menemukan kekuatan yang selama ini tersembunyi dan keseimbangan baru. Berbahagialah mereka yang tak mengalami penjara dan menemukan imaginasi dari yang tak dialami. Keduanya menemukan keseimbangan saling memahami – Arswendo Atmowiloto. (Sophie Mou)

Buku yang satu ini bisa dibilang masuk ke dalam kategori buku motivasi, tapi ya nggak gitu-gitu amat. Menurut saya, lebih ke bagaimana mengubah pola pikir seseorang saat mempersepsikan sesuatu.

Biasanya, buku selalu identik dengan tulisan segambreng dan terkadang kalau beruntung, diselipkan sedikit ilustrasi. Tapi tidak dengan buku putih berukuran mungil ini. Tulisannya jarang dan kebanyakan berupa shout-out atau quote tetapi bermakna sekali, belum lagi dilengkapi foto-foto ilustrasi yang membuat saya semakin excited membacanya. Foto-fotonya tidak hanya setengah atau seperempat halaman seperti buku kebanyakan, beberapa hanya 1 halaman atau bahkan satu bab halamannya berisi foto saja. Saya jadi berpikir, nggak cuma buku design yang mahal saja yang bisa memuaskan saya dalam membaca buku berilustrasi :]

Dan memang terbukti, dari tulisan-tulisan yang cuma secuil itu, saya jadi banyak merenung dan membuat saya belajar memaknai sesuatu dari berbagai sisi. Hal ini sangat berguna di saat saya sedang semangat-semangatnya belajar fotografi, mengenal dan berinteraksi dengan banyak orang baru dan menghargai orang lain.

Keputusan saya untuk membeli buku ini ternyata memang tidak salah. Karena ternyata penulisnya pernah bekerja di bidang seni dan kenal banyak orang terkenal yang bergerak di bidang itu.

Nggak heran foto-foto dan ilustrasi yang dipakai benar-benar berkualitas and that’s everything I wanna see about art and photography :]
I’m not gonna say more because you’d better read it by your self or you’ll be sorry. Don’t forget to tell me after you read it okay? ;]

sumber : http://mytreasurereviews.blogspot.com

Sabar yang Indah

Posted: September 18, 2010 in Buku
Tag:

Sumber : Republika, 10 Agustus 2010
Judul :  Shobrun Jamil (Sabar Yang Indah)
Penulis : Humam S. Chudori
Tebal : viii + 190 halaman
Penerbit : Penerbit Republika

Ning, anak kelima, dari enam bersaudara, pasangan Sarmanto dan Yuliana merupakan sosok gadis yang sabar. Ia bukan sekadar memiliki kesabaran, melainkan cerminan manusia shobrun jamil, sabar yang indah. Betapa tidak, kendati berbagai cobaan menerpa hidupnya, ia tetap tabah menjalani kehidupan ini karena ia yakin semua sudah merupakan takdir yang ditetapkan oleh-Nya.

Gadis berlesung pipit ini sangat yakin bahwa setiap ketetapan-Nya pasti baik. Meskipun, tidak jarang, tidak sesuai dengan keinginan manusia. Mula-mula ia ditinggal mati oleh Misbah, tunangannya, dua bulan sebelum acara pernikahannya.

Belum genap satu tahun ditinggal mati calon suaminya. Ning harus merelakan Darmini, adik perempuannya, menikah lebih dulu. Ayahnya pun menderita sakit gara-gara stress, karena merasa bersalah menikahkan Darmini lebih dahulu lebih dahulu. Cobaan hidup Ning terus bertambah. Tragisnya, gadis penyabar ini justru ‘dikerjai’ pemuda yang pernah menaksirnya.

Sebagai manusia biasa, Ning –kendati tergolong manusia sabar– tidak kuat juga akhirnya menahan penderitaan yang beuntun. Akhirnya gadis ini menghembuskan napas terakhir setelah menderita penyakit yang tak terdeteksi secara medis. Kematiannya, memang menimbulkan teka-teki. Tapi ibunya yakin benar kalau Ning meninggal dalam keadaan khusnulotimah. Sebuah cerita kehidupan seorang wanita yang mencerahkan hati.

a Message of Love

Posted: Juli 24, 2010 in Buku
Tag:,

Judul: A Message of Love

Peresensi: Rini Nurul Badariah, rinurbad.multiply.com
Penulis: Tria Barmawi
Penerbit: Lingkar Pena Publishing
Halaman: 368
Seperti They Want Me to be Bright, novel bernuansa islami cukup kental ini berbicara tentang pendidikan. Tentu saja di AMoL, cakupannya lebih luas. Penulis menyebut metode beberapa sekolah, dan dengan representasi dialog karakter-karakternya, mengungkapkan kekaguman serta inspirasi yang terdorong oleh sejumlah bacaan menyoal topik itu, di antaranya Totto-chan.
Sub plot yang paling merebut hati saya adalah perihal kedua kakek Zahra, Opa Sakri dan Eyang Anang Sumargana. Hubungan kakek dan cucu yang mesra, dibauri aspek-aspek pengajaran yang indah seperti menulis dengan tinta, semangat berbagi ilmu meskipun telah pensiun, dan menerjemahkan buku bahasa Belanda, menyentuh batin sampai ke dasar. Tanpa sungkan penulis mengemukakan bahwa kedua sosok menawan ini terlahir dari profil kakek-kakeknya sendiri, membaca uraian demi uraian mengenai mereka menjerat saya dalam perenungan melodius. Pasalnya, saya merasa disuguhi cerita tentang seseorang yang sangat saya kenal dan memiliki kepedulian serupa pada perkembangan masyarakat sekitar, utamanya di pedesaan, seperti Eyang Anang dan Opa Sakri.
Pautan hati kakek dan cucu digedorkan dalam bentuk mimpi, yang hadir selaku pembuka karya fiksi bersampul hijau menyejukkan penglihatan ini. Ada kalanya mimpi bukan bunga tidur, ada pula mimpi yang bukan rekayasa setan lantaran kita lupa membaca doa, tetapi mimpi yang menggema ke nurani sehingga seorang Zahra yang merasa hidupnya monoton dalam perambatan karir belaka terdorong untuk mengikuti petunjuk dari masa lalu.
Mengapa tagline di muka menyebut-nyebut cinta dan persahabatan? Itu pulalah yang dikuak dalam konflik lain A Message of Love. Tiga perempuan yang menjadi karib, diterpa badai kepercayaan dan keraguan meski telah seperti saudara selama bertahun-tahun, karena asmara. Terbetik pesan bahwa seorang akhwat juga manusia, bisa terperangkap cinta sekaligus hasrat menggebu untuk menunaikan keinginannya segera menikah. Kekecewaan yang berkepanjangan digambarkan sangat baik oleh penulis, tanpa jatuh dalam napas sentimentil yang over dosis. Penghujung romansa yang membuat gemas ini dapat ditebak pada titik tertentu.
Elemen personal yang dijumput penulis untuk mempercantik karyanya ini bukan hanya profil kedua kakek, para pendidik yang menerbitkan rasa kagum melimpah, namun juga dialek Malaysia Aziyah, teman kuliah Zahra, yang sangat ‘nyata’ mengingat penulis sempat bermukim di negeri jiran cukup lama.
Faktor lain yang tidak kalah memukau ialah aroma Sunda dalam sebagian latar cerita. Saya tersenyum-senyum kala Zahra, Mutia, dan Dania nyaris pingsan diberondong suguhan makanan serta selalu harus makan setiap kali mampir bertandang [mengingatkan pada masa KKN di Sumedang yang meledakkan lambung]. Terdapat sedikit kemelesetan dalam dialog bahasa Sunda dengan penduduk, namun tidak menjadi soal sebab dewasa ini, warga di daerah pun lebih fasih berbahasa Indonesia dibanding menggunakan bahasa leluhur. Bila selama ini para pelancong hanya menjelajah sekitar Bandung dan tempat berbelanja alias FO, membaca A Message of Love akan membetot rasa ingin tahu akan adanya desa elok bernama Cibulan Wetan di perbatasan Garut-Tasikmalaya.
Penulis menyisipkan adegan menarik ihwal garis batas yang harus dipatuhi seseorang dalam pola asuh ibu dan anak. Zahra merasa iba pada anak kecil yang rewel karena tidak diberi permen, lalu mengulurkan satu kepadanya. Meski tak lupa berterima kasih, sang ibu menjelaskan bahwa perbuatannya bukan tanpa alasan. Kadang anak-anak menggunakan rengekan sebagai senjata, dan ibu tersebut tidak ingin buah hatinya terbiasa memperoleh segala yang diinginkan begitu saja. Terlebih, ia sudah terlalu banyak makan permen. [hal. 220-223].
Yang terang, membaca novel ini membuat saya kian cinta menetap di desa. Sebagaimana petikan berikut,
“Tidak semua tempat di dunia mampu menawarkan kebahagiaan seperti di sini, Zahra,” kata Eyang suatu hari, duduk di dalam saung bambunya di tengah hamparan kuning padi dan kicauan burung. [hal. 26]

sumber : resensibuku.com

Einstein Girl

Posted: Juli 15, 2010 in Buku
Tag:,

Dibalik kejeniusannya dalam menciptakan teori relativitas, ternyata ada sebuah kisah cinta yang mewarnai rangkaian kisah hidup si Albert Einstein ini. Well, ini dia resensi dari buku Einstein Girl yang saya dapat dari resensibuku, semoga menarik minat kamu.

The Einstein Girl
Sumber: Koran Jakarta, 16 Juni 2010
Peresensi: Muhamadun
Penulis: Philip Sington
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Halaman: 525 / Koran

Albert Einstein, sang jenius satu ini, tidak pernah lepas dari berbagai isu dan misteri. Gelar sebagai ilmwuan paling cemerlang abad 20 mengundang decak kagum khalayak ilmuwan dunia.

Segala gerik-geriknya terus diamati untuk membedah keseluruhan hidup yang dijalani seorang Einstein. Menggali gerak-gerik Einstein tak lain untuk mengungkap kejeniusan yang dimiliki sang maestro.

Dari sekian banyak telusur dan kisah biografis ihwal Einstein, buku berjudul The Einstein Girl; Misteri Kisah Cinta Sang Ilmuwan ini hadir berbeda.Buku ini menguak kisah cinta sang ilmuwan. Pilihan kisah cinta yang diangkat penulis menjadikan buku ini bisa menguak segi berbeda ihwal Einstein.

Philip Sington mengisahkan bahwa 30 tahun setelah kematiannya, suratmenyurat rahasia antara sang jenius Albert Einstein dan matematikawan Serbia yang pernah menjadi istrinya, Mileva Maric, terungkap.

Surat itu mengungkap keberadaan seorang anak haram yang terlahir dua tahun sebelum mereka menikah. Elisabeth Einstein, anak itu, dilahirkan pada akhir Januari 1902 di sebuah desa yang pada saat itu masuk wilayah kerajaan Austro-Hungaria.

Dua bulan sebelum Adolf Hitler naik ke tampuk kekuasaan, seorang gadis muda tanpa busana berparas cantik ditemukan dalam keadaan nyaris tewas di sebuah hutan di luar Kota Berlin.

Ketika gadis itu akhirnya pulih dari koma, dia tidak mampu mengingat apa pun, termasuk namanya sendiri. Satu-satunya petunjuk identitasnya adalah secarik kertas yang terletak di dekat tempatnya ditemukan, berisi pemberitahuan sebuah acara kuliah umum tentang Teori Kuantum oleh Albert Einstein.

Sington mengungkapkan bahwa seorang psikiater bernama Martin Kirsch telah berusaha keras menyingkap kebenaran di balik kasus “Pasien E” (Einstein, maksudnya) ini, tetapi lama-kelamaan ketertarikan profesionalnya ternyata berubah menjadi rasa cinta pada sang gadis.

Penyelidikan intensifnya kemudian membawanya ke pedalaman Serbia melalui sebuah rumah sakit jiwa di Zürich, tempat ahli waris kejeniusan Albert Einstein anak bungsunya, Eduard Einstein yang tengah menulis sebuah buku yang akan menghancurkan reputasi ayahnya sekaligus mengubah dunia.

Seorang Einstein Girl menjadi misteri yang mengguncangkan belahan dunia Eropa. Dalam diri Einstein Girl terdapat darah sang ilmuwan dunia yang mengutak-atik wajah pergolakan keilmuan eksakta.

Tak pelak, kegemparan kasus “anak haram” ini menjadikan sang Einstein Girl mengundang misteri khalayak publik.

Buku ini ditulis dengan memukau berdasarkan riset yang tekun. Novel ini adalah sebuah misteri tentang cinta kasih dan kegandrungan akan ilmu pengetahuan sekaligus sebuah perjalanan gelap menuju sisi psikologis yang tak pernah diungkap dari seorang ilmuwan paling cemerlang pada abad kedua puluh.

Sington, dalam novel thriller historis ini, telah membawa alam pemikiran kita akan dunia Einstein yang bukan saja bergelut dalam alam teoritikus, tapi juga sebagai manusia.

Peresensi adalah Muhamadun, esais, peneliti pada Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes) Jakarta

Alita @ First

Posted: Juli 14, 2010 in Buku
Tag:

Sumber: Okezone, 10 Mei 2010
Judul Buku: ALITA @ FIRST
Peresensi: Ersina Rakhma
Pengarang: Dewie Sekar
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Februari 2010
Tebal: 328 halaman

Baru pertama kalinya saya membaca novel karya Dewie Sekar, dan baru pertama kalinya saya meneteskan airmata lebih dari sekali saat membaca novel metropop. Novel ini begitu menyentuh saya di beberapa bagian, selain fakta bahwa saya mempunyai seorang kakak laki-laki yang berusia jauh di atas saya dan pernah mempunyai cinta yang takkan pernah termiliki. Saya yakin bahwa ada pembaca yang pernah mempunyai kisah serupa. Cerita Alita, Yusa, Abel dan Erwin dalam meraih cita-cita dan cinta sangat lekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Alita, seorang remaja berusia 13 tahun yang baru menginjak bangku SMP, terpesona pada seorang pria teman kakaknya, Yusa. Pembawaan Erwin, pria itu, sangatlah menyenangkan. Sehingga mampu membuat Alita yang pendiam menjadi ceria dan bisa banyak bercerita. Namun satu sifat Erwin yang tidak baik, yaitu begitu banyaknya wanita yang tergoda pesonanya menyebabkan terdapat kesan bahwa Erwin playboy yang gemar mempermainkan wanita.

Yusa, mama, bahkan eyang putri memperingatkan Alit agar tidak jatuh pada perangkap Erwin. Sayangnya perasaan memang tidak dapat ditolak kehadirannya. Cinta itu tumbuh perlahan yang berkelanjutan hingga mengendap di dasar hati Alit yang terdalam dan tidak bisa dijangkau siapapun lagi. Namun Alita tetap menemukan akal sehatnya dan menyimpan rasa itu diam-diam.

Saat Alit memutuskan untuk kuliah di Jogja sambil menemani eyang putrinya, Yusa telah bekerja di Surabaya dan Erwin kembali ke Jakarta. Intensitas pertemuan secara fisik tentu telah berkurang, digantikan oleh teknologi masa kini, e-mail.

Kuasa Allah-lah yang mengatur pertemuan dan perpisahan seseorang. Ava, kekasih Yusa, mengalami kecelakaan lalu lintas dan meninggal dunia. Kejadian itu menyebabkan Alit bertemu kembali dengan Erwin. Pria itu menghibur kesedihan Alit, kembali membangun rasa cinta Alit. Hingga saat Erwin mengatakan bahwa kebawelan Alit mirip dengan Tira, kekasihnya, hati Alit terkoyak. Dia pun memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan Erwin, entah itu puisi yang rutin mereka kirimkan tiap bulan, ataupun SMS dan telepon. Alit mengganti alamat email dan nomor handphone-nya.

Hari berganti bulan, Alit yang selalu menyimpan Erwin di hatinya, dibujuk Abel sahabatnya agar mau berkenalan lebih jauh dengan Baim, seorang mahasiswa yang kos di depan rumah eyang putri. Pada hari Sabtu yang telah mereka tentukan untuk berkencan, tak disangka Erwin datang ke Jogja. Reaksi Alit yang meneteskan airmata saat menemui Erwin, menjawab semua pertanyaan Erwin mengapa Alit tidak membalas email dan teleponnya.

Perasaan Alit tertumpah sudah saat itu. Dia tak lagi malu mengakui bahwa dia menyukai Erwin, dan Erwin pun membuka semua kisah sepak terjangnya selama ini bersama para wanita. Dan Tira adalah wanita yang diharapkannya menjadi yang terakhir dalam hidupnya, bahkan mereka berniat untuk menikah. Alit tidak berharap apapun lagi pada Erwin, dia hanya ingin mencoba membuka hati untuk Baim.

Namun perasaan Alit pada Erwin terlalu kuat. Saat pak pos datang mengantar paket untuk Alit dari Erwin yang berisi kain brokat serta undangan pernikahan Erwin dan Tira, raut wajah Alit cukup menjelaskan bagaimana hancurnya perasaan gadis itu. Baim pun cukup pintar untuk membaca ekspresi Alit. Jika saya boleh menggambarkan perasaan Alit itu dengan kata-kata saya sendiri, akan saya katakan pasti hatinya serasa ditusuk pedang yang tajam dan perlahan pedang itu berputar sehingga pedihnya makin terasa dan takkan pernah hilang.

Begitulah sebagian kecil dari kisah Alita, dan tidak berhenti sampai disitu karena masih ada berbagai peristiwa yang selalu mengaduk-aduk perasaan Alita pada Erwin. Dan satu hal yang selalu ditekankan Alita pada hatinya dan juga pada Erwin, yaitu sekuat-kuatnya perasaan cintanya pada Erwin, dia selalu menggunakan akal sehat dan tidak buta untuk begitu saja menerima Erwin sebagai pasangan hidupnya.
Lalu bagaimana kelanjutan cinta Alita ini? Akankah cinta Alita dan Erwin berlabuh di pelaminan ataukah ada rencana Allah untuk mereka? Yang pasti, Alita telah mengetahui hikmah di balik kepergian Ava, kekasih kakaknya. Yaitu Allah mempersiapkan hati mereka untuk menerima kehilangan yang lebih besar lagi.
Novel ini begitu menyentuh hati saya, baik karena beberapa kesamaan saya dengan Alita, tetapi juga sikap Alita yang begitu teguh memegang logika diatas perasaannya. Hal yang menurut saya sudah jarang dilakukan oleh insan yang lagi dimabuk asmara. Selain itu juga pengendalian diri Alit terhadap hatinya sehingga kontak fisik paling intim yang Alit dan Erwin lakukan adalah berpelukan.

Selain dari sisi cerita, penggunaan kalimat yang tidak bertele-tele juga menjadi daya tarik dari novel karena menjadikan karya Dewie Sekar ini  mudah dipahami dan tidak membosankan. Satu hal yang bisa saya pastikan, siapkan tissue sebelum Anda duduk  manis dan membaca kisah Alita dari awal  hingga akhir. Saya yakin Anda membutuhkannya.

Ersina Rakhma
Penikmat Buku, Tinggal di Jakarta