AKU TERLAHIR 500gr dan BUTA

Posted: Juni 14, 2010 in Buku
Tag:


Karena aku cacat, aku harus berusaha lebih keras daripada orang lain

Membaca sebuah kesaksian bisa menjadi sangat bermanfaat. Kita tidak hanya belajar mengenal pribadi yang bersaksi, tapi juga mengenal bagaimana seseorang berjuang menghadapi kehidupan. Sementara dari aspek spiritual, kita bisa melihat campur tangan Tuhan dalam kehidupan pribadi seseorang. Selain itu, membaca kesaksian juga bisa menginspirasi kita untuk menggumuli hidup dengan lebih serius dan lebih mengucap syukur. Demikian halnya ketika membaca buku Aku Terlahir 500 gr dan Buta ini.

Miyuki Inoue, penulis buku ini, merupakan seorang anak yang dilahirkan dengan harapan hidup yang sangat tipis, sebagai bayi yang lahir prematur. Disampaikan dengan bahasa yang khas siswa sekolahan yang begitu polos, Miyuki menuangkan pengalaman hidupnya, bagaimana ibunya berjuang membesarkannya dengan cinta kasih.

Miyuki Inoue lahir pada tanggal 21 Agustus 1984 di kota Kurume, Provinsi Fukuoka. Kecelakaan yang dialami ayahnya dalam perjalanan dinasnya ke Hiroshima pada musim panas 1984, membuat dirinya tidak pernah bertemu dan merasakan kehangatan seorang ayah. Padahal, ayah dan ibunya baru akan menikah, meskipun hubungan mereka ditentang oleh keluarga ayahnya.

Semula, Miyuki tidak terlahir dengan kondisi fisik yang langsung buta. Sebagai bayi prematur, ia harus berada dalam inkubator. Namun, terlalu lama berada dalam inkubator justru yang banyak dialiri oksigen justru menyebabkan Retinopathy of Prematurity (ROP), penyakit yang gampang membutakan bayi prematur.

Selain itu, Dokter Fukuda, dokter yang merawatnya, menyebutkan sejumlah penyakit yang diderita oleh Miyuki yang masih bayi. Mulai dari kekurangan kalsium dalam darah, tingginya kadar bilirubin dalam darah, anemia, rachitism, pneumonia, pembesaran cerebum, kelaindan pada bronchitis, dan ROP (halaman 17). Tentu saja hal ini membuat sang ibu begitu terkejut dan sangat khawatir.

Meskipun sangat terkejut, namun ia tetap tegar.

“Miyuki, kau adalah anak yang paling malang di dunia. Tidak hanya karena kamu tidak bisa bertemu dengan ayahmu sendiri, tetapi kamu bahkan tidak bisa melihat muka ibumu sendiri. Tetapu anakkuy, kita berdua akan terus hidup sampai kamu dewasa. Sampai kamu menemukan kebahagiaanmu, Ibu akan membesarkanmu sampai kamu bisa bilang, ‘Ibu, aku bersyukur karena dapat hidup.’” (Halaman 26–27)

Lebih jauh lagi, kita akan diajak untuk menelusuri bagaimana sang ibu, Michiyo Inoue (juga menulis buku mengenai pergumulannya membesarkan Miyuki, Hiduplah Anakku Ibu Mendampingimu, juga diterbitkan oleh Elex Media Komputindo) begitu keras dalam membesarkan Miyuki. Dalam suratnya pada bagian epilog, sang ibu menulis,

Ibu akan hidup sambil mengatasi segala masalah dan penderitaan. Ibu tentu akan hidup lebih tenang dengan cara seperti itu, membesarkanmu dengan keras sejak kecil. Kadang-kadang memukulmu. Kalau tangan tidak cukup, kakiku juga akan menendang. Terang saja kamu menganggap diriku sebagai Ibu yang seperti setan.

Ibu tahu kamu menganggap Ibu seperti itu, namun terus melanjuitkan cara mendidik yang keras. Ibu juga ingin supaya kamu menjadi orang dewasa yang kuat. (Halaman 174)

Miyuki memang dididik dengan model biarkan dia mencoba dan menyentuh apa pun (halaman 41). Hal ini membuat ia tidak takut untuk bermain sendiri, meskipun hanya diawasi dari jauh.

Dalam mengajar berbicara juga, ibunya tidak meladeni dengan bahasa bayi yang dibuat-buat. Kalau Miyuki mengucapkan sepatah-sepatah, sang ibu akan menaruh tangan Miyuki ke mulutnya dan mengucapkan kata tersebut dengan jelas.

Buku ini menggambarkan sebuah ikatan keluarga kecil yang sangat kuat. Meski berkali-kali diisi dengan pertengkaran ibu-anak, tangis dan bahagi tak kurang mewarnai kehidupan Miyuki dan ibunya. Ini bukan berarti bahwa Anda perlu banyak berkelahi dalam keluarga untuk memperkuat ikatan, ada banyak cara untuk memperkuat ikatan keluarga.

Namun, apa yang terjadi pada Miyuki dan ibunya memang unik. Sang ibu menuturkan betapa mereka benar-benar tidak punya siapa-siapa lagi. Tidak hanya karena keluarga pihak ayahnya yang tidak mengakui keberadaan mereka berdua, keluarga dari pihak ibunya pun boleh dibilang tidak ada lagi. Masa lalu kelam sang ibu dikisahkannya tak lama setelah mereka bertengkar karena Miyuki berkata hendak bunuh diri karena tidak tahan lagi dengan keadaannya dan kerasnya cara mendidik sang ibu. Hal itu membuka mata Miyuki untuk memahami betapa sedihnya kehidupan masa lalu sang ibu. Dan fakta itu mendorong kehidupan mereka untuk lebih kuat lagi.

Ketika membaca buku ini, ada beberapa hal yang bisa saya pelajari. Selain kembali diingatkan bahwa keutuhan, dalam arti hidup tanpa cacat, adalah anugerah dari Tuhan, saya juga melihat bahwa kecacatan pun ternyata juga merupakan suatu anugerah juga. Ketika merasa diri bisa berguna di balik keterbatasan, kita akan merasa sangat berharga, sangat bahagia. Hal seperti inilah yang dirasakan Miyuki tatkala berhasil meraih juara dalam lomba mengarang se-SLB, mulai dari tingkat daerah, provinsi, sampai nasional.

Selain itu, saya juga sangat kagum dengan sang ibu, Michiyo Inoue. Meski caranya mendidik sangat keras, toh ia berhasil membesarkan Miyuki menjadi seorang anak yang kuat, yang tegar. Semua itu tidak lepas dari keyakinannya,

Ibu yakin, Tuhan memberiku anak buta bukan untuk ditangisi, tapi disyukuri. (Halaman 39)

Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca oleh semua orang yang mengalami kecacatan agar termotivasi bahwa diri mereka sangat berharga, bahwa diri mereka bisa melakukan sesuatu bagi sesama. Tidak hanya itu, orang tua yang memiliki anak yang cacat pun perlu membaca buku ini guna melihat ketegaran seorang ibu yang harus berjuang sendirian merawat dan membesarkan anaknya. Dengan demikian, semangat juang yang tak kenal lelah itu bisa ditiru.

Anda tentu ingin tahu seperti apa karya tulis Miyuki yang berhasil memenangkan perlombaan mengarang tersebut, bukan? Tidak usah penasaran karena tulisannya itu turut dilampirkan dalam buku ini.

Meski tidak terlalu tebal, toh saya masih butuh waktu sekitar empat sampai lima hari untuk membaca buku ini. Dan ini menjadi buku ketiga yang saya baca dalam tahun 2008 ini, sekaligus yang pertama di bulan Februari. Sekarang akan baca buku apa lagi, ya?

Data buku

Judul: Aku Terlahir 500 gr dan Buta
Judul asli: Ikitemasu
Penulis: Miyuki Inoue
Penerjemah: Tiwuk Ikhtiari
Tebal: xiv + 183 halaman
Ukuran: 13 cm x 20 cm
Penerbit: Elex Media Komputindo, Jakarta 2006
Situs penerbit: http://www.elexmedia.co.id/

sumber : sudahbacaapa.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s